Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Januari 2017

Mengunjungi Kota Jambi Untuk Pertama Kali

Jln Lintas Tengah Sumatera, Gunung Medan, Dharmasraya-Sumbar
Walaupun saya sudah berkali kali melewati propinsi Jambi, namun saya baru pertama kali berkunjung ke kota Jambi Minggu tanggal 22 Januari 2017 yang lalu. 

Perjalanan saya mulai dari Kota Pariaman jam 11 siang melewati Padang Panjang - Solok - Sawahlunto - Pulau Punjung - Koto Baru - Sungai Rumbai - Muara Bungo - Muara Tebo - Sungai Bengkal - Sungai Rengas - Muara Tembesi - Muara Bulian dan berakhir di Kota Jambi pada jam setengah empat malam. Jarak perjalanan sekitar 554 km ini kami tempuh dalam waktu 17 jam (termasuk istirahat 4 jam).  

Setelah melewati Lembah Anai dan Pendakian Silaing, kami memasuki Kota Padang Panjang sekitar jam 12 siang. Perjalanan dilanjutkan menuju Kota Solok melewati pinggiran danau Singkarak hingga tiba di kota Solok sekitar jam 1 siang. Cuaca terasa panas sehingga kami memutuskan makan siang di Sawahlunto saja yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari kota Solok. Hingga tibalah kami di kawasan Muara Kalaban sekitar jam 1.30 siang di RM. Dendeng Batokok.

Setelah makan siang, perjalanan kami lanjutkan menuju perbatasan Sumbar-Jambi, kami sholat jamak Zuhur dan Asyar di Sungai Rumbai, kota terakhir di perbatasan Sumbar yang hanya berjarak 1 km dari kabupaten Bungo Propinsi Jambi. Perjalanan dilanjutkan dan 1,5 jam kemudian kami sudah sampai di Muara Bungo yang merupakan Ibukota Kabupaten Bungo - Jambi. Kalau kita dari Padang, kita akan belok kiri menuju jalan lintas ke Jambi beberapa meter setelah terminal Muara Bungo.

Kami sholat Magrib dan makan malam di kota Muara Bungo dan baru berangkat kembali sekitar jam 9 malam menuju kota Jambi. Rencananya kami akan konvoi dengan mobil family yang juga akan ke kota Jambi. Kami janjian berjumpa di depan Masjid Agung Muara Tebo, akan tetapi karena family tersebut masih lama lagi sampainya, maka kami putuskan melanjutkan perjalanan tanpa menunggu lebih lanjut.

Perjalanan malam itu melewati jalan yang berliku-liku dan dibeberapa tempat terdapat lubang-lubang besar yang cukup mengganggu kenyamanan. Pemandangan didominasi semak belukar, hutan, dan terkadang kebun penduduk. Kami melewati daerah Simpang Niam, Sungai Bengkal, Sungai Rengas, Mersam, dan juga Tembesi. Umumnya pola ruang di propinsi Jambi ini masih banyak hutan, semak belukar dan perkebunan rakyat dengan perkampungan-perkampungan-kecil. Setelah beberapa waktu kemudian terdapat kota-kota kecil sebagai sentra perdagangan. Dari segi demografi, penduduk propinsi Jambi ini cukup heterogen dengan dominasi warga lokal Melayu Jambi dan transmigran dari tanah Jawa. Untuk kawasan pasar dan sentra perdagangan kecil, banyak diisi oleh warga yang berasal dari Minang.

Jam 2 malam kami sampai di Muara Bulian, ibukota kabupaten Batanghari, yang hanya berjarak sekitar 1 jam perjalanan ke kota Jambi. Di Kabupaten ini saya menjumpai jembatan yang sangat panjang yang pernah saya temui (diluar Suramadu). Bahkan kata orang jembatan ini lebih panjang daripada jembatan Barelang yang ada di Batam. Kami singgah di warung makanan setelah lewat Kota Muara Bulian. Emak-emak pemilik warung melayani kami dengan mata mengantuk. Saya memanggil gadis penjual di warung dengan mbak karena mengira ia orang Jawa, tetapi mendengar percakapannya kemungkinan ia orang Jambi asli. Kami istirahat disini sambil mendinginkan mesin mobil. Sekitar warung ini juga terdapat supir truk beristirahat memarkirkan mobil.

Sekitar jam setengah tiga malam, perjalanan kami lanjutkan menuju kota Jambi. Jalanan menjelang kota Jambi malam itu didominasi oleh truk, baik yang sedang berjalan maupun yang parkir di pinggir jalan. Pada pukul tiga malam, kami sudah bertemu simpang jalan Lintas Timur Sumatera yang berada di kota Jambi, kami ambil jalan lurus menuju pusat kota untuk kemudian belok kiri menuju kawasan Telanai Pura.
Saya punya kesan yang baik selama di kota Jambi. Kotanya teratur, unik, dengan masyarakatnya yang majemuk dan terlihat rukun. Mudah-mudahan suatu saat saya akan ke kota Jambi lagi.


Jumat, 16 September 2016

Padang - Bukittinggi Via Malalak dan Minum Kopi

Padang dan Bukittinggi adalah dua kota utama di Propinsi Sumatera Barat. Padang merupakan ibukota propinsi dan dikenal sebagai pusat pemerintahan dan pendidikan sementara Bukittinggi dikenal sebagai pusat pariwisata dan pasar grosir. Secara umum terdapat dua jalan utama dari Padang ke Buktinggi, yaitu via Kota Padang Panjang dan via Malalak. Jalan via Malalak merupakan jalan alternatif karena jalan via Padang Panjang terkadang macet terutama disebabkan objek wisata dan pasar tumpah di sepanjang jalan. 

Kelebihan jalan via Malalak adalah kondisi jalan yang mulus dan lebar serta masih sunyi dan pemandangan yang alami. Jalur ini menyajikan pemandangan alam yang sangat bagus berupa perbukitan, gunung dan lembah. Pada tempat tertentu kita dapat menyaksikan panorama Samudra Indonesia dan kota sekitarnya di kejauhan. Jalan ini lebarnya sekitar 7 meter dan masih mulus. Hanya saja di beberapa tempat terdapat tanjakan yang cukup tajam dan panjang serta belokan yang cukup ekstrim. Jarak tempuh melalui jalan ini juga lebih panjang beberapa km dibandingkan jalan via Padang Panjang. Sebagai gambaran, panjang jalan Padang Bukittinggi via Padang Panjang adalah sekitar 87 km, sedangkan via Malalak (Simaka) sekitar 90 km dengan jarak tempuh normal sekitar 2 jam.

Kalau kita dari Kota Padang, untuk menempuh jalur ini kita belok kiri tidak jauh dari pasar Sicincin arah ke Pariaman. Sekitar 2 km kemudian tapatnya di daerah Koto Mambang, kita belok kanan dan sudah berada pada jalur Simaka (Sicincin-Malalak-Balingka) ini yang nantinya akan ketemu dengan jalan Bukittinggi-Maninjau di daerah Ampek Koto. Begitu sampai di Simpang tiga Ampek Koto, Agam, untuk ke Bukittinggi kita belok kanan (kalau belok kiri menuju Danau Maninjau).

Terkadang kalau ke Bukittinggi saya lewat jalan Malalak ini. Saat ini telah mulai bermunculan warung kuliner dan rest area di beberapa tempat. Fenomena orang selfie dan foto-foto juga terlihat dalam perjalanan saya menempuh jalur ini baru-baru ini.

Oya, kemarin saya dan kawan-kawan singgah di salah satu kedai kuliner yang berada di kawasan Malalak. Kedai ini menyediakan nasi dengan sambal-sambal kampung seperti jengkol, terung, kacang panjang dan lain-lain. untuk lauknya tersedia ayam, telur maupun ikan. Disini kami minum kopi yang nikmat di pondok sederhana yang berada di pinggir lembah. Kopi yang disajikan adalah kopi Aceh yang dibawa langsung dari Aceh. Kopi ini juga ditambah resep lainnya seperti beras merah yang disangrai (mungkin) dan dimasukan kedalam gelas bersama biji kopi yang ditumbuk kasar. Rasanya mak nyus dan satu gelas hanya Rp.5000 s/d Rp. 7.000 saja.

 

Sabtu, 21 November 2015

Transportasi Umum (public transport) di Padang


Apabila kita ingin melakukan perjalanan di suatu daerah, kita tentu memerlukan sarana transportasi. Memang terkadang kita dapat menempuhnya dengan jalan kaki, tetapi untuk jarak yang jauh dan perjalanan yang lama tentu tidak tepat dengan berjalan kaki, kecuali jika kita menikmatinya atau untuk tujuan kesehatan misalnya.

Sarana transportasi yang murah dan terjangkau merupakan salah satu pilihan bagi kebanyakan travellers. Sarana ini biasanya tersedia dalam bentuk transportasi umum suatu daerah. Kali ini saya ingin mengulas tentang sarana transportasi umum yang dapat dimanfaatkan di Kota Padang dan sekitarnya:

1. Taxi
Taxi merupakan sarana transportasi umum yang paling nyaman, tetapi tentu saja juga relatif mahal. Saya sendiri sangat jarang memanfaatkan sarana transportasi ini. Berbagai merek taxi ada di Padang, mulai dari merek Angkasa, Blue Bird, Kosti, Express, Singgalang dan lain-lain. Jenisnya umumnya sedan, tetapi ada juga yang jenis MPV. Taxi disini umumnya menggunakan argometer, tetapi ada juga yang tidak pakai argo. Taxi lama umumnya tidak pakai argo dan menggunakan sistem tawar menawar. Tapi taxi baru pun dapat di tawar jika kita ragu kalau dipermainkan. Sebagai gambaran, untuk jarak tempuh 60 km tarifnya sekitar Rp. 150.000,- (dari airport).

2.  Bus Trans Padang
Bus Trans Padang ini baru sekitar satu tahun beroperasi di Kota Padang. Saat ini baru punya satu koridor mulai dari batas kota (Lubuk Buaya) sampai ke pusat Kota (sekitar Imam Bonjol). Rute bus ini terkoneksi dengan rute bus-bus antar kota seperti bus ke Pariaman, Lubuk Basung, Pasaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh, Batu Sangkar, Lintau, dan lain-lain bus arah utara. Selain itu jalur bus menuju Pekanbaru, Dumai, Medan, Sidempuan juga terkoneksi dengan bus ini. Untuk daerah dalam Kota Padang bus ini antara lain melalui Tabing, Kampus UNP, Basko Hotel dan Mall, Gedung DPRD, Masjid Raya Sumatera Barat, GOR H. Agus Salim, RS Yos Sudarso, Kantor Gubernur, Lapangan Imam Bonjol (dekat Pasar Raya) Hotel Grand Zurry, dan lain-lain. Naik bus ini di halte/tempat yang sudah disediakan dengan tarif Rp. 3.500,- per perjalanan.

3. Angkutan Kota (Angkot)
Angkot kota Padang dulunya terkenal dengan variasi modisnya serta suara speaker yang menggelegar. Sekarang hal itu sudah berkurang. Kemungkinan disebabkan oleh pendapatan angkot yang tidak lagi sebanding dengan biaya untuk memodifikasi dan menambah aksesoris angkot. Disamping itu razia dari kepolisian terhadap asesoris illegal serta keluhan kaum tua akan speaker yang mengguncang sampai ke jantung. Berikut jalur-jalur utama angkot di Kota Padang.
  • Pasar Raya - Lolong- Air Tawar-Tabing-Lubuk Buaya. 
Angkotnya berwarna putih, khusus yang sampai ke Lubuk Buaya berwarna oranye. Tarif Rp. 4.000,- s/d Rp. 5.000,-. Angkot ini melewati jalur hotel Axana, Hotel Bumi Minang, Grand Inna Muara, Pantai Padang, Hotel Pangeran, Basko, UNP, dan lain-lain.
  • Pasar Raya - Pasar Baru (kampus Unand)
Angkotnya berwarna biru kehijauan dan hijau muda. Biasanya pada kaca dipasang merek "Lurus". Ongkosnya Rp. 4000,- sampai ke Pasar Baru. Melewati Stasiun Kereta Api Simpang Haru, Andalas, Anduring, Simpang By Pass Ketaping, sampai Pasar Baru, Limau Manis, terkadang juga ada sampai ke kampus Unand.
  • Pasar Raya - Siteba
Angkotnya berwarna biru. Melewati daerah Jati (RSUP M. Jamil,  Kampus Fakultas Kedokteran Gigi Unand), Pasar Alai, Gunung Pangilun, Kampus III Univ. Bung Hatta dan seterusnya. Ongkos Rp. 4.000,-.
  • Pasar Raya - Lubuk Begalung (Lubeg)
Angkotnya berwarna biru tua. Melewati daerah Sp. Haru (tugu), terus ke Marapalam, Aur Duri dan seterusnya. Untuk yang akan menuju tempat mangkal bus ke Solok, Sawahlunto, Sijunjung, Dharmasraya, Pesisir Selatan juga dapat menaiki angkot ini. Angkot ini juga melewati kampus UPI di Lubeg. Ongkos juga Rp. 4.000,-.
  • Pasar Raya - Gadut/Indarung
Angkotnya berwarna merah tua. Tarifnya juga Rp.4.000,-. Angkot ini juga terhubung dengan pangkalan/rute bus ke Solok, Sawahlunto, Sijunjung, Dharmasraya, Painan, dan lain-lain.
  • Pasar Raya - Kalawi
Angkotnya berwarna merah muda. Angkot ini melewati Stasiun Kereta Api Simpang Haru, pasar Sp. Haru, Andalas, kampus IAIN Imam Bonjol Padang di Lubuk Lintah, ongkosnya Rp. 4.000,- .

4. Kereta Api
Kereta api di Padang saat ini baru punya satu jalur yakni dari Simpang Haru ke Kota Pariaman. Ada 5 (lima) stasiun pemberhentian kereta api di Kota Padang yakni Simpang Haru, Pasar Alai, Basko Hotel dan Mall, Tabing, dan Lubuk Buaya. Lebih lengkap tentang kereta api silahkan klik di sini. Saat ini PT. KAI juga sedang membangun jalan kereta api menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Kabupaten Padang Pariaman.   

5. Ojek dan Becak Motor
Sarana transportasi ini hanya beroperasi di daerah tertentu. Ongkosnya biasanya tawar menawar kecuali sudah biasa maka tidak perlu tawar menawar.

Demikanlah beberapa sarana transpaortasi umum yang dapat dimanfaatkan di Kota Padang dan sekitarnya.

Jumat, 18 September 2015

Menjajal Lintas Tengah Sumatera Dengan Sedan - Sambungan..

Ada sekira 2 jam kami berlalu dari Bukit Kemuning, dalam kebimbangan yang semakin memuncak, kami mencari-cari orang yang tepat untuk bertanya, jarang sekali orang yang terlihat, kami juga tidak mau ambil resiko dengan sembarangan bertanya. Kami ingin mendapati orang yang kompeten dan bisa dipercaya. 

Beberapa waktu kemudian nampaklah sebuah SPBU Pertamina kecil dan di dekatnya terdapat sebuah kedai makan kecil. Pas lah, disamping bertanya kami juga ingin mengisi mulut yang sudah mulai kehausan dan perut yang sudah mulai kelaparan. (padahal dalam mobil tersedia makanan dan minuman, hehe).

Kami memasuki kedai, dan setelah memesan makanan dan minuman pertanyaan pun dimulai. Kebetulan pemilik kedai adalah orang Padang/Minang dan ia menyatakan bahwa jalur ini adalah jalur lintas menuju ke Liwa, Lampung Barat selanjutnya ke Bengkulu. Jalur ini bisa juga menuju Lubuk Linggau di Lintas Tengah ataupun terus langsung ke Sumatera Barat dari Bengkulu.  Ia juga menyatakan beberapa orang yang menuju ke Padang/Sumbar ada yang melalui jalur ini. Akan tetapi jalannya memang kecil dan sepi serta rawan longsor.

Kami memutuskan untuk balik kanan, karena disamping suasana jalan yang sepi dan kecil, jalur ini diluar perencanaan kami. Biarlah rugi waktu 2 jam lagi untuk kembali ke Bukit Kemuning, titik dimana kami salah jalur. (pulang pergi jadinya kami rugi waktu 4 jam). 

Sampai kembali ke Bukit Kemuning, maka dengan hati-hati kami mencari jalan Lintas Tengah. Setelah memastikan sudah di jalur yang benar (dengan bertanya) maka kami mulai memikirkan tempat untuk beristirahat menunggu malam. Waktu sudah sekitar jam 10 malam, jalanan juga sudah mulai sepi. Sesuai dengan informasi yang kami dapat, jalur lintas sumatera kurang aman ditempuh pada malam hari, lebih-lebih bagi yang belum tahu medan. Kami mencari tempat istirahat, dan tak lama kemudian nampaklah sebuah rest area dan di dekatnya terdapat kantor polisi. Kami beristirahat di rest area tersebut menunggu pagi.

Sambil berusaha menikmati minuman di malam itu, kami ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung. Namanya kalau ga salah Bang Agus. Ia merupakan orang Jawa Lampung, kampungnya di Blambangan tidak jauh dari situ. Ia menceritakan bahwa sebelum kantor polisi dan rest area ini ada, di jalan sesudah rest area tersebut termasuk arena pelaku begal dan pemalakan. Ia mengatakan cukup berat tantangannya pada awal membuka rest area ini. Ia pernah diancam dan diserbu oleh preman-preman di sekitar sana, namun ia menghadapinya dengan kepala dingin. Ia sama sekali tidak takut, karena ia berasal dari daerah sekitar.

Rest area ini cukup sepi, hanya kami saja yang orang jauh pada waktu itu. Selebihnya adalah orang-orang sekitar dan ada juga anggota polisi. Terkadang orang-orang sekitar itu nanya-nanya kami tujuan kemana. Mereka bilang gak usah khawatir,  disini aman, katanya. 

Malam itu saya tidur di mushalla yang ada di rest area. Bang Agus dengan ramah membersihkan dan membentangkan tikar mushalla, ia juga menemani kami ngobrol-ngobrol. Beberapa waktu kemudian timbul suara gaduh dari arah kantor polisi, Kata Bang Agus di atas, (jalur setelah rest area ini) terjadi pemalakan terhadap sopir-sopir truk. Karena si sopir tidak mau memberi uang, mobilnya dilempar. Akhirnya si Sopir mengadu ke kantor polisi. Sirena polisi pun meraung-raung menuju TKP.

Pagi hari, seusai sholat Shubuh, kami membangunkan Bang Agus dan minta dibuatkan sarapan. Dengan sigapnya si mbak istri Bang Agus menyiapkan sarapan berupa nasi sambal dan mie goreng telur. Harga makanan disini standar saja, akan tetapi sebagai ucapan terima kasih saya sumbang sedikit untuk pembangunan mushalla yang masih minim fasilitasnya, terutama kurangnya air bersih.

Selepas sarapan, sekira jam 6 pagi kami melanjutkan perjalanan, kali ini jalan yang dilewati cukup sepi dan mulai berliku-liku, jalannya cukup baik, hanya di beberapa tempat terkadang berlubang cukup besar memenuhi jalan. Mobil hanya bisa berjalan pelan pada tempat ini. Mungkin sekarang sudah diperbaiki oleh pemerintah. 

Sekira 2,5 jam perjalanan, kami sudah sampai di Kota Martapura, Provinsi Sumatera Selatan, kota kecil yang sedang merangkak maju menurut saya. Kami terus menyusuri jalan dan sekira 1 jam kemudian sampai di Kota Baturaja, kota yang indah dan bagus menurut saya. Kami tidak singgah, hanya mengisi BBM dan perjalanan berlanjut menuju Tanjung Enim dan Muara Enim.

Perjalanan dari Baturaja menuju Muara Enim adalah perjalanan yang cukup mendebarkan bagi saya sebagai pemula. Jalur di sini banyak yang rusak, terkadang sampai berkilo-kilo meter. Kendaraan tidak bisa dipacu karena seluruh jalan dipenuhi lubang-lubang besar. Jika tidak hati-hati mengambil jalan, kendaraan bisa kandas. Apalagi kami menggunakan kendaraan kecil sejenis sedan. 

Diantara tempat yang paling menyeramkan adalah suatu daerah hutan berbukit-bukit yang sepi. Jalannya kecil, berbelok, belok, naik dan turun serta terkadang penuh dengan lubang-lubang yang besar, di kanan bukit dan di kiri jurang. Itulah kawasan Muara Meo yang menurut cerita orang sih dulunya rawan perampokan terutama terhadap supir truk yang membawa barang ekspedisi. Alhamdulillah kami melalui kawasan ini dengan selamat dan selanjutnya mulailah keluar dari hutan dan bersua daerah pemukiman penduduk. Perjalanan berlanjut sampai ke Tanjung Enim. 

Sesampai di Tanjung Enim, kawasan sudah rawai penduduk dan jalan pun sangat baik dan bagus. Tak berapa lama kemudian kami memasuki Kota Muara Enim. Di kota ini kami lagi-lagi salah mengambil jalan dimana kami terambil jalan menuju Palembang. Seharusnya kami lurus saja di persimpangan itu, kan tetapi kami ikut jalan ke kanan. Untunglah dengan bantuan alat GPS kami kembali ke jalur yang benar. Kami makan siang di Kota ini, di Rumah Makan Kamang Indah.

Setelah makan siang, perjalanan kami lanjutkan menuju Kota Lahat dengan jarak tempuh sekitar 47 km. Jalan cukup bagus dan kami sampai di Kota Lahat sekitar jam 2 siang. Dari Kota Lahat perjalanan lanjut ke Kota Lubuk Linggau dengan jarak tempuh sekitar 157 km. Perjalanan cukup lama dengan jalanan yang lumayan bagus, di beberapa tempat jalan agak kecil, tapi aspalnya cukup bagus. Hanya saja di rute ini jalanan banyak yang sepi. 

Sore hari yang cerah sampailah kami di Lubuk Linggau, sebuah kota yang cukup megah dan memanjang sepanjang jalan lintas tengah sumatera. Di Lubuk Linggau ini terdapat simpang ke kiri menuju Bengkulu, dan kalau ke Padang belok ke kanan. (dari Jakarta). Setelah melewati Lubuk Linggau, jalan cenderung lurus dan naik turun sehingga mobil dapat di pacu dengan maksimal. Akan tetapi hati-hati juga ketika menyalip saat hampir tiba di puncak sebab lawan tidak terlihat di bawah puncak sebalik.

Sekira jam 9 malam kami sampai di Kota Bangko, Jambi. Hujan lebat yang sering terjadi dalam perjalanan sepanjang 370 km dari Lubuk Linggau menguras tenaga dan fikiran kami. Mengemudi pun juga sudah tidak stabil. Akhirnya kami memutuskan beristirahat sambil makan malam di sebuah cafe yang cukup ramai di Kota Bangko. Cukup lama juga kami beristirahat di sini sambil memperhatikan kondisi mobil.  

Sekira jam 10 malam, mobil kembali di geber menuju Kota Muara Bungo, kota terakhir di Propinsi Jambi sebelum memasuki perbatasan Sumatera Barat. Hujan sangat lebat dan ditambah lampu mobil-mobil besar yang terasa menyilaukan mata kami di mobil yang kecil. Mata juga sudah tak mau berkompromi karena mengantuk. Akhirnya kami jalan pelan-pelan saja dan sekitar jam 12 malam sudah memasuki Kota Muara Bungo. Istirahat di kota ini sudah tanggung dan kami paksakan juga jalan pelan-pelan sampai ke perbatasan Sumbar di daerah Sungai Rumbai. Mobil terus saja kami bawa dalam keadaan mata mengantuk berat, dengan target tidak lama lagi kami akan istirahat di daerah Gunung Medan, Kabupaten Dharmasraya, Sumbar. Di sana terdapat rumah makan yang besar dengan fasilitas lengkap dan area parkir yang luas. Disana terdapat mushalla dan juga kamar mandi. Kedai-kedai kecil dan minimarket juga tersedia disekitar rumah makan untuk sekedar membeli cemilan. Disinilah kami beristirahat menunggu pagi untuk melanjutkan perjalanan yang sudah tidak lama lagi.

Paginya kami bangun agak kesiangan. tidur kami benar-benar nyenyak malam itu. Bangun tidur menunaikan sholat Shubuh. Teman saya (Da Hari F Day) mandi untuk pertama kalinya sejak dari Jakarta, sedangkan saya hanya cuci muka saja. Setelah sarapan, perjalanan kami lanjutkan menuju Kota Sawahlunto, terus menuju kota Solok. Perjalanan disini sudah enjoy karena rasanya tidak begitu lama. Jalannya disamping juga sudah bagus, juga sudah melalui pemukiman penduduk di kiri-kanan jalan. Akhirnya kami sampai di Kota Solok sekira jam 10 pagi. Dari Kota Solok ke Kota Padang tinggal 1,5 jam perjalanan, akan tetapi teman saya mengantarkan saya terlebih dahulu ke rumah saya di Pariaman, jadi dari Solok kami terus ke Padang Panjang (sekira 1,5 jam perjalanan) dan dari Padang Panjang terus ke Pariaman (sekira 1,25 jam perjalanan).

Sebelumnya 

Rabu, 16 September 2015

Menjajal Lintas Tengah Sumatera dengan Sedan



Pada akhir Februari 2015 yang lalu, saya diajak teman ke Jakarta dengan misi menjemput mobil yang dibeli di Jakarta untuk dibawa ke Padang. Sebagaimana diketahui, harga mobil di Jakarta dan Padang memang berbeda, terutama untuk merek-merek tertentu yang tidak umum, harga di Jakarta bisa jauh lebih murah.

Berhubung saya lagi Tugas Belajar dan lagi libur pula, saya  menyanggupi permintaan teman (senior di S1, sekelas di S2) tersebut. Kami pun berangkat via udara ke Jakarta, bermalam semalam di Jakarta dan besok nya selepas Maghrib berencana pulang ke Padang membawa mobil sedan.

Rencana berangkat selepas Maghrib jadi berantakan karena saya terlambat balik ke tempat tinggal di rumah kakak teman senior tersebut di daerah Kebayoran Lama. Saya ada urusan ke tempat teman lain di Pulogadung dan pulangnya telat karena tidak memperkirakan lama perjalanan di Jakarta. Saya tiba di Kemayoran Lama sudah hampir jam 9 malam. Saya sih sudah siap tempur langsung berangkat, tetapi timbul keraguan dari teman dan familinya mengingat kami kurang istirahat dan sudah mau menyetir jauh pula ke Sumatera Barat. Apalagi kami sama-sama belum pernah membawa mobil lintas Jakarta Padang sebelumnya.

Terjadilah diskusi hangat malam itu tentang kapan sebaiknya berangkat. Saya bersikeras malam itu juga, sementara family teman mengusulkan besok saja. Maka akhirnya di dapat lah jalan tengah berangkat besok habis subuh saja. Ok. Deal.

Tentang jadwal keberangkatan dari Jakarta ke Padang ini khususnya lewat Lintas Tengah sebaiknya memang malam hari sekitar pukul 9-an. Ini mengingat agar kita tidak perlu bermalam di jalan sewaktu di Pulau Sumatera nantinya. Dengan berangkat malam, diharapkan pada pagi hari sudah sampai di kota Bumi Lampung Utara, dimana jalanan setelah itu mulai sepi, kecil, dan rusak parah di beberapa titik. Kalau dilalui pada malam hari tentu sangat rawan.

Ok lanjut ke perjalanan, pagi itu setelah sholat Subuh, maka sekitar jam setengah enam kami mulai bergerak, masuk ke gerbang tol dan mobil pun di geber di jalan tol Jakarta-Merak sampai menggigil (maklum mobil hanya 1300 cc). Tak lama sekitar jam 7 pagi kami sudah sampai di Pelabuhan Merak yang berada di ujung jalan tol. Mengikuti arahan dan panduan petugas, mobil sampai di loket karcis kemudian menuju ke dermaga tempat naik kapal. Harga karcis kapal untuk mobil tersebut kalau saya tidak salah sekitar Rp. 250.000,-.

Setiba di dermaga antri dulu, kebetulan mungkin karena bawa sedan dipersilahkan antri di depan agar bisa dibawa ke lantai 2 kapal. Kami antri beberapa waktu sebelum masuk kapal. Di sana terdapat beberapa pedagang makanan; seperti pop mie, lontong; minuman seperti kopi dan jamu, serta ada pula pedagang keliling menawarkan barang asesoris, koran, majalah, dan lain-lain. Jika kita tidak mau beli kita tinggal bilang tidak dengan sopan.
Kapal Feri di Pelabuhan Merak
Merak Seaport dari atas kapal
Sekitar setengah jam kemudian, kami dipersilahkan naik ke kapal fery. Setelah memarkir mobil, sambil menunggu kapal berangkat kami sarapan dengan roti dan minuman yang sudah disiapkan. Kapal kayaknya kosong waktu itu, hanya beberapa orang dan mobil berada diatas kapal yang relatif besar.

Perjalanan diatas kapal kami habiskan dengan ngobrol ngalor ngidul sambil menikmati pemandangan laut Selat Sunda dan juga pulau-pulau kecil yang terlewati. Makin lama pulau Jawa makin jauh dan sekitar 1,5 jam berlalu kami pun tiba di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, Pulau Sumatera.

Turun dari kapal mobil digeber keluar dari pelabuhan dan mulai memasuki alam Sumatera yang terasa agak keras ketimbang pulau Jawa. Gimana tidak, jalannya mulai menanjak dan berliku dan tampak agak sunyi.

Mobil meluncur ke Kalianda, terus lama berjalan kita akan jumpa lagi laut, itu menandakan kita sudah berada di kawasan Kota Bandar Lampung. Di Bandar Lampung ini hari sudah siang sekitar jam 12 dan perut mulai terasa lapar. Kami mencari rumah makan, dan setelah banyak restoran yang kami lewati akhirnya terjumpa rumah makan yang cukup bagus di sebelah kiri jalan, mobil pun meluncur ke sana. Itu adalah rumah makan Padang dengan halaman cukup luas kalau tidak salah mereknya Bareh Solok. Kemudiannya saya ketahui pemilik rumah makan ini berasal dari Koto Anau, Solok dan rumah makan ini banyak dijadikan sopir-sopir terutama truk dan fuso sebagai tempat mengadu misalnya kalau kehabisan uang atau apalah di jalan. Dalam komplek rumah makan ini juga terdapat markas Pekat IB, organisasi berseragam loreng semacam Pemuda Pancasila.

Selepas makan dan sholat kamipun melanjutkan perjalanan. Jalanan masih ramai dan bagus, bahkan berjalur dua. Sedikit demi sedikit kami meninggalkan kota Bandar Lampung menikmati pemandangannya yang baru bagi kami. Melihat aneka jajanan dan kuliner yang terdapat di pinggir jalan, melaju melewati kota kecil demi kota kecil dan sampailah kami pada sore hari di daerah Kota Bumi, Ibukota Kabupaten Lampung Utara. Di sini untuk meyakinkan kami bertanya di warung dan akhirnya perjalanan lanjut hingga sampailah kami di daerah Bukit Kemuning, ujung Kabupaten Lampung Utara. Disinilah kesalahan mulai terjadi, disini ada simpang empat dimana jalan yang besar itu lurus dan belok kanan jalannya agak kecil. Sebagai pemula, insting mengatakan bahwa jalan Lintas Sumatera tentulah jalan yang besar, jadi kami ambil lurus. Lihat peta GPS pun posisi mobil masih di jalur jalan. Lanjut,,,,,namun apa yang terjadi jalanan yang kami lalui semakin kecil dan semakin sepi, malam mulai menggantikan siang dan jalanan semakin sepi dan gelap saja. Rumah-rumah pun jarang kelihatan dan kalau ada pun dengan pintu tertutup. Sampai benar-benar masuk hutan dan lama kemudian baru bersua perkampungan penduduk yang rumahnya banyak dari papan. Itupun orangnya jarang yang tampak. Pemandangan ini mengingatkan saya kemudiannya dengan sinetron Tujuh Manusia Harimau yang sempat hits beberapa bulan lalu. Apalagi kemudian di perkampungan sunyi ini saya terlihat sekelompok orang yang memakai baju silat Sumatera. Sepertinya mereka akan berlatih silat. Nampaknya ini perkampungan penduduk asli.

Sabtu, 12 September 2015

Pelabuhan Fery Singapura - Batam


Terdapat beberapa pelabuhan kapal fery dari Singapura ke Batam ataupun sebaliknya. Rata -rata ongkos sama saja dari setiap pelabuhan di Singapura ke Batam. Tarif sekitar SGD 24 (Rp.240.000) untuk perjalanan satu arah (one way) per orang. (tahun 2015). Berikut disajikan sedikit gambaran pelabuhan fery Singapura - Batam :


Singapura

HarbourFront
Berada di belakang Mall Harbourfront yang bersebelahan dengan Mall Vivo City. Dari sini sangat dekat ke Pulau Sentosa tempat dimana Universal Studio berada.
Dari sini banyak fery tersedia menuju Batam antara lain ke Batam Centre, Sekupang, HarbourBay, Nongsa Pura, serta Waterfront City.
Namun rute yang paling lengkap adalah menuju Batam Centre dimana tersedia sejak jam 07-an hingga jam 09-an waktu Singapura (06-an hingga 08-an WIB).
Kapal fery yang tersedia antara lain Sindo Fery, Batam Fast, dan Prima Fery, Wave Master, Pasific Fery, dll.

 Tanah Merah
Dekat dengan Bandara Changi rute ke Batam tiba di Pelabuhan Nongsa Pura. Fery yang tersedia antara lain adalah Batam Fast. Ketersediaan kapal sejak jam 08.00 – 9.30 waktu Singapura.


Batam

Batam Centre 
Banyak rute dari Singapura ke Pelabuhan ini, karena berada di tengah pulau Batam, disini juga mulai tumbuh pusat perbelanjaan dan kantor pemerintahan. Dari pelabuhan ini tidak begitu jauh ke Bandara dan juga kawasan pusat bisnis di Nagoya.

HarbourBay 
Dekat dengan kawasan Nagoya dan Jodoh yang merupakan pusat bisnis dan kebanyakan hotel dan penginapan berada di  sekitar daerah ini.

Sekupang 
Berada di sebelah barat pulau Batam dan jauh dari Bandara Hang Nadim, namun tidak begitu jauh dengan Nagoya, kawasan bisnis dan perhotelan.

Nongsa Pura 
Berada disekitar kawasan wisata ekslusif pulau Batam, pelabuhan ini tidak terlalu jauh dengan Bandara  Hang Nadim, Batam.

Water Front 
Berada disebelah barat pulau Batam tidak jauh dari Sekupang. Fery dari Singapura ke pelabuhan ini agak jarang dan juga letaknya agak jauh dari pusat kota.

Singapura - Batam

                    
Hari ke empat, perjalanan di Singapura berlanjut ke pulau Batam. Kami menyeberang melalui Terminal Ferry HarbourFront ke Terminal Fery Batam Centre. Terminal HarbourFront terletak di belakang Mall Harbourt Front, dimana mall ini terhubung langsung dengan Vivo City Mall yang merupakan starting place menuju Pulau Sentosa. Sebenarnya ada beberapa pelabuhan lain yang menghubungkan Singapura dan Batam, untuk lebih lengkapnya tentang pelabuhan tersebut klik disini:

Di dalam Harbourfront Mall, kami membeli tiket ke Batam. Ada beberapa konter operator fery disana, akan tetapi kami memilih Sindo Ferry karena harga tiket sedikit lebih murah (SGD 23 = Rp.230.00,- per orang untuk satu kali perjalanan (one way). Harga yang sedikit lebih murah berkemungkinan berkaitan dengan kenyamanan. Kapalnya memang nyaman, namun kurang maksimal.

Karena belum waktunya Check in, kami menunggu dulu di ruangan tunggu dekat kounter tiket. Kami baru dipersilahkan memasuki ruangan tunggu keberangkatan sekitar 50 menit sebelum jadwal  keberangkatan. Sebelum memasuki ruangan boarding itu, akan ada pemeriksaan bagasi dan pemeriksaan pasport di konter imigrasi Singapura. Kita juga diminta mengembalikan kartu imigrasi yang kita isi sewaktu masuk ke Singapura, kemuadian tanpa banyak/tanpa tanya pasport saya pun di cop. Kemudian kami turun dengan eskalator menuju ruang tunggu keberangkatan dan disini akan ada layar informasi tentang pintu tempat fery (berth) dan jadwal kapal kita. Akhirnya sekira jam 18.20 waktu Singapura kami dipersilahkan memasuki kapal (boarding) dan tak lama kemudian kapal pun bergerak meninggalkan pelabuhan. Ada sekitar sekitar 1 jam-an kami berlayar dan kemudian kapal sampailah di Pelabuhan Batam Centre. Disini akan ada lagi pemeriksaan bagasi dan paspor imigrasi, dan akhirnya  resmilah kami kembali berada di negara Indonesia yang sama-sama kita cintai ini. :)

Kami dijemput adik yang kuliah di Uniba, ia menunggu di Mega Mall yang langsung terhubung dengan gedung pelabuhan Batam Centre. Dari Mega Mall kami mencari makan dulu dan selanjutnya putar-putar kawasan Nagoya sebelum sampai di penginapan. Kami memang memilih penginapan di daerah Nagoya karena disana tersedia hotel dengan fasilitas yang cukup baik dengan harga yang cukup murah, serta dekat dengan keramaian. Harga penginapan di kawasan ini bervariasi mulai dari yang sangat murah sampai sangat mahal. Berkisar dari Rp.100.000 sampai juta-an.

Paginya, kami rencana akan dijemput oleh adik yang kos di kawasan Batam Centre, akan tetapi ternyata ada masalah dengan mobil rentalnya, yakni bersenggolan dengan mobil lain, akhirnya kami jalan-jalan diantar oleh family sekaligus menyelesaikan urusan mobil. Waktu tidak banyak karena sorenya tiket ke Padang sudah di booking.

Acara dilanjutkan dengan berkeliling kawasan perbelanjaan di Nagoya dan sesekali nampak turis bermata sipit dari Singapura. Selain pertokaan, di kawasan ini juga terdapat tempat spa dan pijit. Menurut orang sana, turis Singapura lebih senang menghabiskan uangnya di tembat-tempat hiburan seperti spa dan pijit, sedangkan orang Indonesia lebih banyak menghabiskan uangnya di pusat-pusat perbelanjaan. Barang di Batam memang cukup lengkap dengan harga yang lebih murah, terutama parfum dan barang aksesoris seperti dompet, jam tangan, dan tas.

Dari Nagoya kemudian kami diantar ke tempat membeli oleh-oleh Batam di sebuah plaza kecil, akan tetapi ramai pelangannya. Rupanya disini terkenal karena harganya yang lebih murah dan mereka juga bersedia mempacking barang ke dalam kardus yang sudah tersedia, bahkan barang yang tidak di beli disana pun mereka bersedia membantu packingnya.
Balik dari belanja oleh-oleh kami menuju rumah family. Kemudian sekitar Jam 02.50 WIB kami bergerak menuju Bandara Hang Nadim. Perjalanan dari rumah family ke Bandara memakan waktu sekitar 20 menit. Mampir-mampir  sebentar di jalan dan jam setengah empat kurang sudah berada di Bandara. Selanjutnya pesawat berangkat tepat pada waktunya. Kali ini saya apresiasi buat Citilink.

Pelabuhan Harbourfront, Singapura
Pemandangan dari atas kapal fery
Sup dekat hotel di Nagoya, racikan bumbunya pas
Kawasan Nagoya