Tampilkan postingan dengan label Pariaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariaman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Desember 2015

Gelar Laki-laki Pariaman

Sebagaimana diketahui, dalam sistem adat Minangkabau, wilayah Pariaman termasuk wilayah rantau  orang-orang Minangkabau. Wilayah ini sering disebut sebagai rantau Tiku Pariaman, atau juga Rantau Banda Nan Sapuluah. Sebagai wilayah rantau, di daerah Pariaman ini telah terjadi percampuran budaya dan tradisi terutama tradisi Minangkabau dan etnis-etnis lainnya yang dulu juga telah menghuni wilayah Pariaman. Pariaman dulunya merupakan daerah maju dan pelabuhan yang terkenal semasa abad ke 15 dan telah mengadakan kontak dengan dunia luar baik India, Arab, Eropa, maupun dengan sesama nusantara seperti Aceh, Barus, Nias dan Bangkahulu.

Oleh karena perkembangan yang demikian, terdapat ciri khas orang Pariaman yang tidak terdapat di wilayah lain Minangkabau, seperti adanya gelar bagi lelaki Pariaman yang di letakan di depan nama. Gelar ini bukan turun dari mamak ke kemenakan seperti adat dan tradisi umum di Minangkabau, akan tetapi diwariskan dari ayah kepada anak.

Gelar ini ada empat tingkat, yaitu:

1. Sidi (berasal dari kata Saidi/Saidina). 
Dianggap gelar kehormatan yang paling tinggi pada masa lalu, dimana diasumsikan gelar ini merupakan panggilan kepada orang-orang yang mempunyai kedekatan dengan Rasulullah dan sahabatnya.

2. Bagindo (berasal dari kata Baginda)
Ini juga merupakan gelar kehormatan yang tinggi seperti halnya orang memanggil kepada raja. Kabarnya gelar ini merupakan panggilan untuk keturunan raja-raja yang berasal dari darek (luhak nan tigo)

3. Sutan (berasal dari kata Sultan)
Ini juga merupakan gelar yang cukup terhormat pada masa lalu di Pariaman. Gelar ini juga mengacu kepada panggilan raja pada waktu itu yaitu Sultan (Sutan - Minangkabau). 

4. Marah 
Gelar ini merupakan gelar masyarakat kebanyakan, yang tidak mempunyai keturunan dari pihak ulama maupun pihak bangsawan/raja. Ada yang menyebut gelar ini merupakan gelar bagi orang Pariaman asli, tetapi ada juga yang menyatakan gelar ini adalah gelar bagi pendatang yang tidak masuk kategori dalam tiga gelar diatas. Bagaimanapun sampai saat ini banyak orang Pariaman yang bergelar asli "marah" merasa malu dengan gelar tersebut dan lebih senang membuang gelarnya itu.

Demikian sedikit yang saya ketahui, terkurang terlebih saya mohon maaf.


Jumat, 18 Desember 2015

Nasi Sala, Kuliner Sarapan Khas Pariaman


Pernahkah bangun pagi anda merasakan begitu lapar? Mungkin karena malam hari tidak makan nasi atau terlewat makan makanan yang pokok. Kalau begitu, sarapan nasi sala adalah pilihan yang tepat. Makanannya cukup berat di perut pagi (bagi yang tidak terbiasa sarapan  dengan nasi) akan tetapi rasanya indah dan mengenyangkan. :). 

Meskipun demikian, walau bagaimanapun sarapan nasi sala ini layak dicoba. Sama ada dalam keadaan lapar berat maupun tidak. Sarapan ini adalah ciri khas orang Pariaman bagian pantai (pasir). Orang pasir banyak yang berprofesi sebagai nelayan, dan mereka membutuhkan energi lebih. Oleh karena itu mereka sering membawa bekal (baka) melaut dan salah satunya adalah cikal bakal nasi sala ini.

Mungkin anda tahu sala selama ini berupa bulatan kuning dari bahan dasar tepung yang digoreng. Terkadang di dalamnya diisi secuil daging ikan (asin) sehingga terasa renyah-renyah sedap. Tapi di pasir Pariaman, sala juga berupa ikan atau aneka makanan laut (seafood) yang di baluri dengan tepung sala lalu digoreng.

Enaknya makan nasi sala ini disamping rasanya, kita juga dapat sekaligus menikmati pemandangan pantai pariaman yang cukup terkenal itu. Ya, makanan nasi sala umumnya hanya dijual disekitar pantai gandoriah Kota Pariaman, baik yang langsung dekat pantai maupun sepanjang jalan dekat jalur kereta api di depan pantai Gandoriah.

Nasinya dibungkus dengan daun pisang. Rasanya enak, apalagi dipagi hari ikan sala dibelah dan diberi bumbu tepung sala langsung dimasak hot from kuali. Makannya dengan samba lado khas pasir yang pedas-pedas enak. Sebagai camilan juga tersedia sala bulat dan sala-sala lainnya seperti sala bada, sala cumi (mansi), dan lain-lain. Juga tersedia sayur daun pucuk ubi rebus, terung goreng balado, dan lain-lain sebagainya. Sebagai tambahan, jika anda tidak suka ikan ataupun sala juga tersedia menu samba lainnya seperti gulai tahu/tempe/telur, telur dadar/goreng, ikan sepat (sapek) dan lain-lain juga.

Harga nasi sala ini cukup manenggang. Dijamin ga bakalan bikin kantong jebol. Berkisar antara Rp. 8.000 s/d Rp. 15.000. Kemudian tergantung apa dan berapa yang anda lahap.

Oya, nasi sala umumnya tersedia pagi hari sampai menjelang siang. Kalau malam hari sangat jarang (tapi ada), akan tetapi rasanya tidak sesegar di pagi hari. Bagi yang belum pernah mencobanya terutama yang dari luar kota Pariaman, datanglah dan cobalah, sambil menikmati keunikan kota Pariaman yang tersendiri. Salah satu sarana transportasi ke Pariaman yang patut dicoba adalah kereta api. Sesampai di stasiun kereta api Pasar Pariaman, kawasan pedagang nasi sala hanya seperjalanan kaki saja.

Tentang kereta api ke Pariaman dapat diklik di sini

Kamis, 08 Oktober 2015

Gulai Kambing Cubadak Mentawai - Pariaman

Saya tinggal di Kota Pariaman, di desa yang terletak paling ujung di Kota Pariaman berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman. Nama desa nya Cubadak Mentawai. Di sini ada kompleks perumahan dan saya tinggal di salah satu rumah di kompleks tersebut. Jarak tempat tinggal saya dengan pusat kota sekitar 6 km.

Di desa ini terdapat rumah makan yang cukup terkenal di Kota Pariaman, terutama di kalangan PNS dan penggemar gulai kambing. Rumah makan ini dibuat dibuat dari bahan kayu dan sederhana saja. Keistimewaannya adalah karena mempunyai lokasi yang luas dan terletak di perkampungan dengan suasana alam yang segar. Di sebelah rumah makan ada sungai yang tepinya dipenuhi oleh batang-batang buluh (bambu). Oleh pemilik rumah makan, di tepi sungai ini dibuat semacam lesehan, sehingga orang dapat makan sampil menikmati angin sepoi-sepoi di pinggir sungai yang masih segar. Musiknya adalah desiran daun bambu yang tertiup angin.

Masakan yang terkenal di rumah makan ini adalah gulai kambingnya yang spesifik dan pedas. Gulai kambing dimasak dengan kuah agak kehitaman seperti rendang. Aroma kuahnya kuat dengan rempah dan bumbu. Biasanya hidangan juga disertai dengan goreng sambalado plus sayur seperti terung dan mentimun.

Walaupun rumah makan ini buka harian, tapi gulai kambing hanya tersedia pada hari Jum'at saja. Orang yang ingin makan disini bisa sholat Jum'at dulu di masjid raya Cubadak Mentawai yang terletak tidak jauh dari rumah makan. Selepas sholat Jum'at, ramai orang-orang mengantri makan dengan gulai kambing. Terkadang apabila kita datang terlambat, maka gulai kambing telah habis. Oh ya, soal harga makanan Rp. 17.000 satu porsinya. Apabila kita merasa porsi yang disediakan masih kurang, maka untuk tambah gulai kambing dikenakan Rp.15.000,- per porsi.


Sabtu, 03 Oktober 2015

Kereta Api : Transportasi Murah dan Nyaman Padang - Pariaman

Teeeeeeeeettttttttttttttt.........teeeeeeeeettttttttttttttttt....
Begitulah suara klakson Kereta Api ketika melewati persimpangan dan perkampungan penduduk sepanjang jalur Padang - Pariaman. Kereta api ini berangkat empat kali sehari dengan jadwal sebagai berikut:

Bagi anda yang ingin bepergian ke Pariaman dari Padang ataupun sebaliknya anda dapat memesan tiketnya di stasiun-stasiun yang telah di tentukan yaitu:

Kota Padang
  •  Stasiun Simpang Haru ( Titik Awal Keberangkatan)
  •  Stasiun Pasar Alai
  •  Stasiun Samping Basko Mall
  •  Stasiun Simpang Tabing
  •  Stasiun Pasar Lubuk Buaya

Kab. Padang Pariaman
  • Stasiun Duku (dekat Simpang ke Bandara Internasional Minangkabau)
  • Stasiun Lubuk Alung
  • Stasiun Pauh Kambar

Kota Pariaman
  • Stasiun Kurai Taji
  • Stasiun Pasar Pariaman
Stasiun Besar Sp. Haru
Untuk ongkos, kereta api ini terbilang sangat murah, yakni Rp. 4.000,- saja per perjalanan jauh/dekat. Jadi, kalau kita dari Pariaman mau belanja ke Basko Mall cukup Rp. 4.000 saja sudah sampai. Begitu pula apabila dari Padang mau pulang atau mau jalan-jalan ke Pariaman, cukup Rp. 4.000,-. Murah bukan?? Sayang tiketnya belum bisa dipesan on line, hanya dapat di pesan di loket pada stasiun yang dituliskan diatas.

Suasana di dalam kereta api cukup nyaman. Tidak ada pedagang asongan, AC nya cukup dingin, tempat duduk cukup nyaman dan tersedia colokan listrik untuk mencharge HP. Kereta ini juga dilengkapi dengan toilet di setiap gerbongnya. Kalau anda membawa minuman juga ada tempat untuk meletakkan botol minuman anda. (tapi bagi tempat duduk dekat jendela).

Kereta api berangkat tepat waktu sesuai jadwal. Lama perjalanan dari stasiun awal (Sp. Haru) ke stasiun akhir (Pasar Pariaman) adalah sekira 1 jam dengan jarak tempuh lebih kurang 60 km. Nah, bukankah menarik juga pengalaman naik kereta api? Teringat oleh saya waktu kecil dulu dibawa jalan-jalan naik kereta api oleh ayah ibu saya. Setelah besar begini pun, saya telah beberapa kali mencobanya.